Indonesia, 17 April tahun 2019 ini, akan kembali memilih pemimpin nasionalnya. Kenangan tahun 2014, Rakyat Jawa Barat kemarin memilih pemimpin. Indonesia 2014 memilih pemimpin. Akhir bulan Maret di tahun yg sama, Paus Benediktus XVI meletakkan Kepemimpinannya dan kemudian Gereja Katolik melalui para Kardinal juga harus memilih pemimpin. Sama-sama membutuhkan pemimpin; hanya yang satu harus merebut kepemimpinan sebelum masa berakhir, dan yang lain menyerahkan kepemimpinan untuk dilanjutkan. dari dua model kepemimpinan ini memang nampak jelas jiwa pemimpin manakah yang dikehendaki dalam keberlanjutan kepemimpinan: Pemimpin Penguasa atau Pemimpin Pelayan? Charles De Gaulle, 1890-1970, seorang Jenderal dan Presiden Perancis mengatakan, “untuk menjadi orang yang berkuasa, politisi harus berperilaku sebagai hamba”. so? Mana tuan dan mana hamba dalam politik kita? Kalau kepemimpinan adalah cara untuk melayani, mengapa harus berebut kekuasaan dan menawarkan diri untuk dipilih demi kekuasaan dan dianggap penting? Dimananpun, pelayan, hamba, TKI, dan sejenisnya, tidak pernah mendeklarasikan diri sebagai pemimpin apalagi sebagai pahlawan devisa. Mereka digelari “pahlawan” oleh “pemimpin yang diuntungkan oleh kehambaan, keTKIan” yang telah dilakukan mereka. Patutlah kita sadar, Pelayan, hamba, TKI dan sejenisnya, hanya tahu menjalankan apa yang diperintahkan tuannya. Mereka berbesar hati dan bermental kuat dalam citra dirinya untuk tidak dianggap penting, tidak dianggap terhormat, namun siap mengabdi dalam keadaannya. Semakin beriman, semakin bersaudara, semakin berbela rasa. Salam Inspiratif.

 

lkstj